Pena Pesantren

Memacu memberdayakan pesantren

ad

Menembus Tradisi Pesantren


Judul Buku : Pesantren Dari Transformasi Metodologi
Menuju Demokratisasi Institusi
Penulis : Prof. Dr. Mujamil Qomar, M.Ag
Penerbit : ERLANGGA, Jakarta
Cetakan : 2009
Tebal : 206 hlm.
Peresensi : Ahmad Shiddiq Rokib*

Pesantren merupakan institusi pendidikan dan dakwah agama. Ia hadir ditengah-tengah rakyat yang belum mengenal sekolah dan universitas. Karenanya, tidak dapat dipungkiri bahwa pesantren telah banyak memberikan andil besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam wacana ini, dalam menjalankan fungsi pendidikan memang merupakan tugas pokok dari semua pesantren. Selama pesantren dapat menjalankan fungsi pendidikan bagi pemberdayaan umat, maka selama itu pula ia dapat mempertahankan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat.

Dalam perspektif inilah pada dasarnya pesantren ingin menciptakan santri yang menurut al-Ghazli an yakuna “aliman, ‘abidan, ‘zahidan, wari’an, ya’rif mashalih al-khalq. Adapun, dari sisi kepemimpinan mereka memiliki tiga identitas sekaligus, yaitu spiritual leader, community leader, dan knowledge leader. Karenanya, dahulu para kiai lebih mementingkan untuk membangunkan shalat subuh santrinya dari pada sekedar mereka mampu menghafalkan kitab Alfiyah. Demikian pula, banyak kiai yang justru memberi bungkusan nasi kepada santrinya pada pagi hari, ketika ia melihat santri tersebut memasak nasi untuk makan sahur.

Dan menurut rumusan Azyumardi Azra, Pesantren telah melakukan tiga peranan : transmission Islamic of knowldge (penyampain ilmu-ilmu keislaman), maintenance of Islamic tradition (pemiliharaan tradisi islam ), dan reproduction of ulama (pembinaan calon ulama). Watak utama yang melekat pada pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan telah menjadikannya memiliki tradisi keilmuan sendiri, namun tradisi ini mengalami perkembangan dari masa kemasa dan menampilkan manisvestasi yang berubah-ubah.

Kemudian ada tiga karesteristik yang dapat dikenali sebagai baik utama kultur pesantren. Pertama, pesantren sebagai lembaga tradisionalisme. Tradisionalisme dalam mencontoh tauladan yang dilakukan ulama salaf yang masih murni dalam menjalankan ajaran islam agar terhindar dari bid’ah, khurafat dan klenik. Kedua, pesantren sebagai pertahanan budaya (culture resistence). Mempertahankan budaya dengan ciri tetap berdasarkan ajaran dasar islam adalah budaya pesantren yang sudah berkembang berabad-abad. Ketiga, pesantren sebagai pendidikan keagamaan. Pendidikan pesantren didasari, digerakakan, dan diarahkan oleh nilai-nilai kehidupan yang bersumber pada ajaran islam. Ajaran dasar ini berkelindan dengan struktur sosial atau realitas sosial yang digumuli sehari-hari.

Dan dalam buku berjudul “Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi” yang ditulis oleh Mujamil Qamar ini, berusaha memberikan gambaran yang utuh tentang pesantren. Hal ini, di perlukan agar penilaian klise yang selalu mengkategorikan pesantren sebagai lembaga tradisional yang tidak pernah disentuh oleh proses perubahan yang dinamis bisa dihindari. Seperti diketahui bahwa sebagian pengamat pesantren yang meneliti lembaga ini secara parsial memberikan konklusi bahwa lembaga pesantren lahir sebagai perwujudan sikap budaya lokal yang hanya mampu menawarkan bentuk pengajaran yang statis dan tidak dinamis.

Berbeda dengan konklusi para pengamat tersebut, penulis buku ini menemukan sebuah dinamika yang halus namun pasti yang terjadi pada institusi pesantren. Dengan karakter seperti itu profile lembaga ini sebetulnya selalu berubah sejak dulu sampai sekarang, baik dari sudut perubahan kepemimpinan, sistem pendidikan, kelembagaan, kurikulum maupun metode pengajarannya. Dinamika seperti itu, menurut penulis buku adalah akibat dari kemampuan pesantren dalam menjalin hubungan interactive dengan nilai yang hidup di sekitarnya. Hubungan timbal balik tersebut kemudian melahirkan terjadinya perubahan dan penyesuaian dalam tubuh pesantren, hingga lembaga yang sudah berusia ratusan tahun ini bisa tetap hidup dan menghidupi masyarakat di sekitarnya sampai era modren ini. Dinamika pesantren juga tercermin dalam perubahan yang terjadi dalam deminsi kurikulumnya.

Pesantren, menurut alumni IAIN Syarif Hidayatullah ini, ternyata selalu memantau kebutuhan hidup di masyarkat, agar kurikulum yang ditetapkannya nanti dapat merefleksi jenis ilmu yang diperlukan dalam kehidupan mereka. Dalam deretan ilmu agama yang diajarkan dilembaga pendidikan islam tradisional tersebut, penulis mencantumkan dengan pola susunan yang hirarkis agar dinamika yang terjadi dalam kurikulum dalam pesantren tersebut bisa terdeteksi.

Sedangkan, perkembangan pesantren dari sudut metode pengajarannya juga nampak menampakkan sifat dinamis yang dimiliki lembaga ini. Pesantren menurut hasil penelitian ini, tidak merasa cukup dengan metode pengajaran konvensional yang sebagian dipinjam dari lembaga pendidikan islam di negeri lain, seperti wetonan, sorogan, muhawarah, mudzakarah, dan majlis ta’lim. Oleh karena itu diperkenalkan metode pengajaran yang didasarkan pada sistem pengajaran baru ke dalam sistem pendidikan modern selalu memiliki resonansi di lembaga pesantren. Jenis metode pengajaran modern yang didasarkan pada sistem pengajaran kelas itu secara bertahap telah diadopsi oleh pesantren, sesuai demensi waktu yang melahirkan setiap metode tersebut. Dalam rentangan waktu yang panjang tampak pengenalan metode modren tersebut dalam lembaga pesantren mulai metode madrasi, diskusi sampai seminar.(hal, 145)

Dengan demikain ini, pesantren tidak hanya mampu mentransformasi pendidikan secara tradisional tapi mampu menjawab tantangan yang dihadapi dalam berbagai strategi, baik kepemimpinan pesantren, transformasi sistem pendidikan pesantren, transformasi institusi di pesantren, transformasi kurikulum pesantren, dan transformasi metode pendidikan di pesantren. Buku ini, patut di apreasiasi dan dibaca oleh mahasiswa, akademisi, peneliti, pengasuh pesantren dan mereka yang menekuni serta berminat mengetahui pesantren, karena kajian yang ditawarkan oleh penulis akan memberikan perseptif baru tentang dunia pesantren. Wa allahu a’lamu bi al-shawab.

Penulis alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafiyah Ibrohimy Gapura, Sumenep dan sedang studi di IAIN Sunan Ampel Surabya.
Read More “Menembus Tradisi Pesantren”

MENGAPRESIASI KREATIFITAS SANTRI



Judul Buku : Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis
Editor : Tsanin A Zuhairi, M.si
Penulis : Rizal Mumazziq Zionis, dkk.
Prolog : Prof. Dr. H.Nur Syam, M.Si
Epilog : Prof. Dr. Abd. A’la, MA
Penerbit : Muara Progresif, Surabaya
Cetakan : I, 2009
Tebal : xii+224 hlm.
Peresensi : Ahmad Shiddiq Rokib*


Santri yang dulu sering disebut sebagai kelompok tradisioanal, dewasa ini sudah tidak relevan lagi. Santri sudah bermain-main dengan facebook, blog, dan dunia teknologi informasi lainnya. Bahkan santri banyak yang menjadi penulis, jadi kalau sekarang banyak santri yang menjadi penulis hakikatnya adalah bagian dari proses kreatifitas ditengah dunia kompetensi dalam berbagai bidang yang luar biasa.

Buku berjudul “Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis” adalah bukti santri yang menekuni dunia kreatifaitas menulis, dan menunjukkan pada dunia bahwa mereka juga bisa berbuat sesuatu, dengan menjadi penulis tidaklah gampang seperti yang dibayangkan. Buku ini, menggambarkan bagaimana beratnya seorang santri menulis, penuh dengan liku-liku. Betapa tidak, menjadi seorang penulis, harus meredam dan menahan keinginan untuk bersenang-senang bahkan sekedar untuk bersenda gurau dengan teman-teman santri lainnya.

Menjadi penulis memang bukan hanya iseng untuk mengisi waktu luang tapi butuh intensitas yang sangat tinggi dan membutuhkan pengorbanan yang luar biasa dari seorang penulis. Disamping itu juga, menyediakan waktu dalam proses menulis, karena menulis membutuhkan tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu ; Membaca, inspirasi, dan kemauan untuk menulis. Ada yang suka baca, tidak menemukan inspirasi, ada yang hanya mempunyai inspirasi tapi tidak ada kemauan untuk menulis atau sebaliknya, jadi ketiga-tiganya harus berjalan senada dan seirama.

Memang, kadang menjadi penulis bukan karena hobi atau bakat yang dimiliki seseorang, tapi karena ada faktor-faktor yang mendukung kreatifitas itu muncul. Pertama, faktor kebutuhan perut alias penulis kelaparan, sehingga menumbuhkan ide-ide dan mampu menghadang tantangan yang ada, dengan menjadi motivasi keronik tersebut, maka honorlah yang terbayang. Kedua, ideologi, karena semua penulis buku ini adalah alumni pesantren. Nuansa ke-pesantren-annya kental, yaitu paradigma yang khas ala pesantren yang tetap mempengaruhi gaya kepenulisan dan pola pikir dalam memanen ide-ide kreatifitas, dengan konsep al-muhafadzatu ala al-qadimi al-sholeh wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah.

Dalam buku setebal 224 ini, pembaca akan disuguhi curhat dari 13 penulis bagaimana ia memulai menulis, proses kreatifnya, dan setelah dimuat di berbagai media baik lokal maupun nasional. Membaca tulisan Suhaidi RB, pembaca akan tergelitik dengan menelusuri perjalanan mengukir kreatifitas. Ia merasa mendapat teror oleh seniornya dengan ucapan “jangan bermimpi, anda masih pemula sudah berani mengirim ke media besar (Nasioanal)”. Teror mental tersebut hampir saja membunuh semangat dan karakter kepenulisan yang sebelumnya bangkit, atau kisah Fathorrahman JM, yang honor pertamanya dimuat dimedia Nasional ludes di meja kantin, Karena di paksa jadi bos kecil oleh teman-teman santri lainnya. Ada yang lebih ngeri lagi dengan menghukum diri sendiri, dengan pegang ballpoint dan kertas meski ada ide atau tidak, tak pelak jika ide masih belum muncul-muncul, ia merubah posisi duduk dari mulai berbaring, terlentang, jongkok dan bahkan berdiri. Demikian seterusnya, hal ini dilakukan oleh ahmad khotib hingga akhirnya “hukuman” padanya berhasil menumbuhkan produktifitasnya. (hal. 155)

Kisah-kisah mengenaskan sekaligus mengesankan, juga dituturkan dengan kocak oleh Muhammadun, Mukhlis amrin yang selama ini terperanjab di Dunia sastra, menulis curhatnya dengan gaya prosais. Refleksi gado-gado ala Salman Rusydi Anwar dan Rizal Mumazziq Zionis juga terasa renyah dengan penekanan. “…..bahwa menjadi penulis adalah menjadi sosok yang belajar banyak hal”. Ada pula Ach. Syaiful a’la yang memilih lelaki sunyi seorang penulis, sekedar meniru kreatifitas tuhan, katanya.

Selain itu, ada juga pola adaptasi gaya tulisan penulis idola sebagaimana yang dilakukan Nur faishal yang kesemsem berat dengan gaya estetika essainya Goenawan Mohammad, maupun gaya detail mengalir ala Pramoedya Ananta Toer. Juga layak di baca bagaimana para perempuan yang terbiasa lebih intuitif-estetis dalam mengolah kata, mencoba melarutkan ide-idenya dalam bentuk cerpen maupun novel, sebagaimana yang dilakukakan oleh Azizah Hepni, Noviana Herliayanti, Ana FM, Hana al-Ihriyyah. Dengan membaca buku ini sampai penghabisan pun, seakan-akan dibawa pada dunia realitas bahwa kita lah pelakunya.

Yang jelas buku ini, membawa cita-rasa baru dalam kepenulisan yaitu menulis membutuhkan semacam perangsang yaitu kesabaran, kerja keras, komitmen, ketelatenan, keuletan dan kemauan untuk belajar. Dengan demikian, buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang berminat belajar menulis agar lebih mengenal pola lika-liku, bahkan jalan terjal sekalipun yang hendak dilewati, sehingga mudah dan mempersiapkan diri untuk membekali diri. Sedia payung sebelum hujan.

Ahkirnya, mengutip pernyataan D. Zawawi Imron di cover belakang buku ini “Pada era modern ini, anak-anak santri pun mengalami keresahan dengan kemelut sosial, politik, ekonomi, dan lain-lain. Diantara mereka ada yang mencari denyut hidup dalam dunia penulisan”, lalu, Andakah yang mencari denyut nadi hidup di dunia kepenulisan berikutnya?.

Penulis adalah alumni Pondok Pesantren NASA, sekarang melanjutkan studi pada Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Read More “MENGAPRESIASI KREATIFITAS SANTRI”

Budaya Lokal : Identitas Keislaman Nusantara



Judul Buku : Pantun Melayu, Titik Temu Islam dan Budaya Lokal Nusantara
Penulis : ABD. RACHMAN ABROR
Penerbit : LKIS, Yogyakarta
Cetakan : September, 2009
Tebal : xvi+400;14,5x21cm.
Perensi : Ahmad Shiddiq Rokib*

Budaya pantun dari tanah Melayu, futurolog john dan patricia dalam mega trend 2000 pernah memprediksi bahwa di era global, kecintaan pada budaya dan tradisi untuk menunjukkan jati diri suatu bangsa akan semakin menguat ditengah terpaan peradaban global. Hipotesis ini, dalam Indonesia yang memiliki prulalitas budaya sekaligus sebagai penerima globalisasi, menjadi ukuran dan bahkan taruhan tersendiri bagi masa depan keindonesian. Persoalan kebudayaan yang segera muncul kemudian adalah apakah proses globalisasi yang tak terhindarkan itu akan menggerus kebudayaan lokal ataukah globalisasi itu justeru membawa berkah bagi tumbuh dan berkembangnya kebudayaan local?.

Problem kebudayaan itu dapat ditelusuri pemecahannya, diantaranya dengan sebuah ihktiar kebudayaan, sejauh kita dapat memilihara, menggali dan merevitalisasi hasil kebudayaan manusia Indonesia, yang dapat membedakan dengan bangsa lain. Dengan cara itu, jati diri bangsa akan terbaca eksistensinya.

Adalah buku “Pantun Melayu, Titik Temu Islam dan Budaya Lokal Nusantara yang mencoba menyingkap keunikan produk budaya lokal berupa pantun yang merupakan hasil kesustraan asli melayu yang menjadi khazanah kebudayaan Indonesia yang hidup sejak lama, terutama disebagian Sumatra dan Kalimantan. Menurut Abd.Rachman Abror penulis buku setebal 400 halaman ini, bahwa pembangunan kebudayaan yang berorientasi pada pembangunan mental spiritual sama pentingnya dengan pembangunan sains dan teknologi agar bangsa yang terseret lebih jauh pada perasaan rendah diri karena kehilangan kepribadian sebagai bangsa.

Sebagaimana dikatakan oleh St .Takdir Alisjahbana bahwa pembangunan kebudayaan manusia Indonesia pada kerangka pengembangan individu yang berkepribadian pembangunan masyarakat seutuhnya tidak hanya berberhenti pada ekspresi pengalaman individu itu sendiri. Dan kalau melihat konsep manuasi yang dianut masyarakat melayu adalah kesatuan antara jasmani dan rohani (psikologi dan monodualis). Mereka mengorentasikan nilai budi dan sesuai dengan fitrah kejadian manusia , konsep kesatuan itu juga sesuai dengan konsep budi itu sendiri yang tersusun secara bersiratan kedalam gugusan akal-budi, hati-budi, budi-bicara, dan budi pekerti.

Dalam kontets Melayu yang lebih luas, pribadi-pribadi yang berwatak budiman, diharapkan dapat melahirkan komunitas masyarakat dan bahkan bangsa yang meliki watak budiman. Dengan demikian, kedudukan budi begitu memiliki makna penting sebagai ukuran penilaian, karena menjadi fondasi kehidupan bangsa atau sebagai sarana pembngunan character building dalam berbangsa dan bernegara.

Fungsi utama pantun sebagi alat komunikasi tidak langsung masyarakat, bahsa yang digunakan merupakan lambing dan perlambang. Lambang-lambang tersebut bukan hanya diambil dari alam sekitaryang sudah lazim (flora dan fauna), melainkan juga diambil dari mitos dan legenda , peribahasa atau tegangan kias dan benda budaya (artefak budaya). Misalnya, mereka gunakan selain untuk menerangkan diri mereka, juga cermin diri. Dengan demikian, demikian sarana fisik dapat menjadi sarana penting dalam pembentukan nilai dan norma, yang lazim disebut nilai danorma adat (hal, 247).

Adapun nilai-nilai islam yang terkandung pantun melayu berkisar pada nilai-nilai iman, ibadah, dan akhlak. Ketiganya merupakan satu bangunan agama islam yang saling kait mengait dan tak terpisahkan. Pengalaman nilai-nilai islam dalam dunia Melayu turut berperan dalam melahirkan pelbagai tradisi agama orang Melayu dan nilai-nilai tersebut ikut memperkaya dan memperkokoh konsep budi mereka, sebagai nilai tertinggi dengan tujuan untuk menhasilkan manusia yang budiman. Salah satu contoh pantun Melayu yang mencerminkan nilai-nilai luhur agama sebagai berikut : pisang nipah di batu laying /anyam ketupat dujung tanjung/ hati susah bawa sembayang / disitu tempat iman bergantung. Dari pantun tersebut, sangat jelas pesan nilai-nilai agamanya.

Biasa pantun melayu digunakan dalam berdakwah dan mendiskusikan adat, dengan suasana penyampaian yang berbeda dari suasana pantun anak-anak, teka-teki, percintaan, yaitu membangkitkan perhatian dan mengajak untuk berfikir, merenung dan mengamalkan.
Buku ini, selain membedah secara akademik tentang pantun Melayu, juga telah berhasil membuka cakrawala bertemunya nilai-nilai islam dalam bait-bait pantun, terutama nilai budi atau akhlak yang sekaligus menegaskan idenfikasi yang kuat tentang Melayu dengan Islam.

Buku ini patut diapresiasi karena penulis buku ini justru bukan orang lahir dan besar dalam “ruang budaya pantun ” . ia seorang jawa yang mencintai kebhinnekaan dan terkesima dengan pantun. Dengan kata lain, untuk memelihara kebudayaan di butuhkan cross understanding di antara suku bangsa yang berbeda. Sehingga, tidak hanya layak dibaca oleh peminat kebudayan, akademisi, dan mahasiswa, tapi juga oleh generasi baru yang tidak bersedia kehilangan jati diri dengan menanggalkan budaya bangsanya sendiri hanya karena latah dengan pesona globalisasi.
Wa allahu a’lam bisshowaf.

Penulis adalah Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya aktif di Pondok Budaya Ikon
Read More “Budaya Lokal : Identitas Keislaman Nusantara”

Sumarah, Simbol inklusvisme Islam


Judul Buku : Kejawen Modern, Hakikat dalam Penghayatan Sumarah
Penulis : Paul Stange
Penerbit : LKIS Yogyakarta
Cetakan : I, April 2009
Tebal : xIvii + 394 hal.
Perensi : Ahmad Shiddiq Rokib*


Siapa yang berani menyatakan sudah mencapai kesempurnaan hidup, “pengertian” mengenainya masih di alam “pemikir”. Pengalaman pencerahan batiniyah pun masih di alam wujud, walau terkadang sangat halus. Kebenaran mutlak atau di sebut hakiki hanya berupa pancaran tuhan yang memang di mungkinkan bergandeng dengan alam-alam yang ditempuh makhluk yang disebut “manusia”. Bagaimanapun, yang mutlak masih “milik Tuhan”, tak tercakup alam terbatas yang disebut “orang”.

Sumarah, sebuah organisasi kebatinan yang dipelopori oleh Sukinohartono, yang kehadirannya menitikberatkan pada prinsip bahwa “kebenaran mendasari semua agama”. Ia berfungsi sebagai penyelaras spritual dan material, serta penguat tali persaudaraan umat manusia. Sumarah sebagai perkumpulan kebatinan yang bersumber pada penghayatan, yaitu saluran atau wahana demi perkembangan batin dari tuhan kepada seseorang secara langsung.

Paul Stange dalam buku ini menyatakan bahwa tema utama sejarah Sumarah adalah upaya mengubah pandangan orang dari keterikatan pada kerajaan arwah leluhur. Ini dibuktikan sendiri oleh pendiri Sumarah, yang menolak bantuan ruh panembahan sinopati untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan pasukan dari alam lelembut. Dan atau ditolaknya gaya islam ala Diponegoro dalam perang Jawa melawan belanda lewat bantuan Nyai Roro Kidul.

Pada prinsipnya, berbagai macam praktik spiritual kalangan mistik diharapkan berhasil dalam meningkatkan kesadaran bahwa segala wujud, termasuk yang mereka gunakan adalah melitansi. Inti pencarian mistik, sebagai kesadaran langsung akan kesatuan adalah berada diluar demensi baik nyata ataupun gaib. Meskipun pengalaman mistik berbuah dalam beberapa gagasan intelektual atau keyakinan emosional, intinya pengalaman itu sendiri tidak bergantung pada keduanya. Kalangan mistik secara universal menyatakan bahwa inti pengalaman adalah sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh nalar, sedangkan otentisitas tidak dapat dinilai berdasarkan wujud yang terpercik dari ekspresi sehingga pada ujungnya ia hanya mampu diketahui oleh dirinya sendiri.

Sebagaian orang jawa masih merasakan islam sebagai agama asing secara esensial. Artinya, ia bukan dari identitas mereka, seperti halnya, budaya india sebelumnya. Pandangan budayawan kejawen lebih cenderung melihat kebelakang pada perpaduan rohani Majapahit Hindu selama lebih dari lima abad yang lalu ketimbang Demak Islam pada masa kemudian. Beberapa tradisi rakyat yang menyuguhkan secara rinci keruntuhan Majapahit memasukkan ramalan bahwa jawa nantinya akan jatuh dibawah kaki kebudayaan asing selam lima ratus tahun sebelum zaman Buddha, atau era kemasaan baru akan membangkitkan kembali jati diri kejiwaan pribumi.

Dan karena orang Sumarah memandang evolusi mereka sendiri sudah barang tentu terdapat begitu banyak keragaman corak perkembangan. Bahkan pada tahapan awal sejarah gerakan kebatinan itu, para juru bicara Sumarah memahami perkembangan tersebut dalam pengertian dinamis. Mereka menyesuikan yang terus berlanjut terhadap pertumbuhan kesadaran internal dan tekanan eksternal dalam konteks yang melatari sebagai sesuatu yang alamiah. Alih-alih membahas magik dan kesaktian, tema pembicaraan mereka sudah mengarah kedemensi kesadaran dalam sehari-hari dan mengaitkan perubahan yang terjadi dengan difusi otoritas spiritual atau yang disebut “demokratisasi spiritual”(hal, 312).

Gerak batiniah, baik dari kesadaran maupun organisasi juga dimengerti sebagai sesuatu yang terkait secara integral dengan pola nasional. Akan tetapi, kesejajaran itu dihayati bukan hanya sebagai hasil dari kekuatan yang sama, melainkan juga sebagai refleksi dari penyelarasan kelompok yang sifatnya khusus terhadap peristiwa yang lebih luas dimensinya.

Secara umum, latihan sumarah mengilustrasikan suatu prinsip yang diakui secara luas. Basis tuntunan spiritual dalam Sumarah adalah “penyelarasan” para pamong terhadap kondisi batiniah para anggota. Disini pamong sebagai penuntun spiritual dianggap mempunyai kepekaan terhadap rasa yang merupakan landasan bagi pernyataan objektif tentang kondisi getaran yang sifatnya halus dalam diri warga Sumarah, yang boleh jadi tidak disadari oleh mereka.

Nah, fenomena ini menunjukkan bahwa sejak dahulu islam di Jawa tidak mengenal apa yang disebut ekslusivitas. Ketergantungan antara islam dan dunia kejawen (kebatinan) juga tampak dalam wayang kulit, sebagai kontinuitas Hindu ke Islam (kisah pertemuan Sunan kalijaga dan Judistira), perjuangan pangeran Diponegoro pada 1825-1830 melawan penjajah Belanda (pertolongan nyi Roro kidul). Artinya, interaksi antara islam dan budaya lokal telah menciptakan sikap inklusivistik islam yang tertanam diJawa sejak dahulu kala.

Buku setebal 394 halaman ini, sangat berharga sekali, disamping jarang sekali, bacaan berat dibahas secara tuntas, gamblang dan mudah dicerna siapapun. Untuk itu, membaca buku ini dengan sendirinya kita berhadapan dengan seoarang yang disatu sisi murni scholar (seorang yang berjarak terhadap Jawa). Namun disisi lain, menjadi “orang dalam” yang menganut dan menghayati nilai-nilai yang diteropong tersebut.

Sehingga buku ini layak dibaca siapapun yang menaruh perhatian pada kebudayaan Nusantara khususnya Jawa. Baik, budayawan, akademisi dan masyakat umum, karena lewat suatu teropong etnoggrafisnya yang dikombinasikan dengan penelusuran leterarnya, buku ini makin lebih hidup.

*) Penulis adalah Staf Departemen Pengkajian dan Penelitian Pondok Budaya Ikon Surabaya.
Read More “Sumarah, Simbol inklusvisme Islam”
ad

Jejak Pengunjung

Mengenai Saya

Foto saya
saya adalah alumni pesantren desa yang jauh dari heruk pikuk informasi dan teknologi, jadi saya berkomitmen untuk memakmurkan pesantren dalam rangka memberdayakan masyarakat kecil

Labels