Pena Pesantren

Memacu memberdayakan pesantren

ad

Sosok Sufi dibalik Kedai kopi


Judul Buku : JEJAK SPRIRITUAL Kiai Jampes
Penulis : Murtadho Hadi
Penerbit : Pustaka Pesantren
Cetakan : I, 2008
Tebal : xii+76 hlm.
Peresensi : Ahmad Shiddiq Rokib*


“Kiai kerjanya kok cuman ngopi ngrokok-ngopi ngrokok. Kopi dan rokok kan haram !?”.

Begitu kira-kira kritik tajam yang terlontarkan dari seorang kiai berpandangan ekstrim tentang kopi dan rokok terhadap kiai ihsan. Lalu bagaimana reaksi kiai ihsan terhadap kritikan yang ditujukan pada dirinya. Akankah ia marah, beradu argumen dengan seribu dalil atau mengeluarkan celurit untuk berkelahi? Tidak, beliau hanya tersenyum seakan-akan tidak ada beban. Karena melayani hal demikian hanya bisa menimbulkan jidal ( poro padu dalam istilah jawa ). Dan begitu ada ksempatan yang memungkinkan malah beliau menyempatkan untuk menyusun risalah tentang “kopi dan rokok” dengan judul irsyadul Ikhwan fi Bayani Hukmi Qahwati Wa ad-Dukhan, syair-syair yang amat indah tentang kopi dan rokok.

Kitab sederhana itu hendak mengulas hukumnya “kopi dan rokok” dalam pandangan ulama dengan melakukan menelusuri perjalanan asal-usul tembakau sampai ke kampung-kampung terpencil Amerika, Meksiko, dan Afrika. Hal ini, yang ingin ditunjukkan oleh seorang sufi dari kediri bahwa perang sehat para ulama adalah sebuah wacana (karya) bukan justru berkoar-koar yang hanya sakitkan telinga dan seperti ini kearifan-arifan muncul yang hendak memakmurkan umat dengan hikmah dan Uswatun Hasanah.

Dan tradisi kopi ini sangat kuat dipulau jawa utamanya masyarakat Nganjuk, Tulungagung, Blitar dan bahkan belum ada yang menandingi dikota-kota lain indonesia. Kedai-kedai kopi pun menjadi laris manis dari pagi hingga malam hari sekalipun. Kita bisa bayangkan pemilik warung sekali ngadoni (menyeduh kopi) tiga puluh sampai empat puluh cangkir dalam sekali tuang. Tradisi yang kuat membuktikan bahwa keramaian tidak harus dikota besar yang notabene sibuk dengan aktivitas ekonomi dan dunia hedonis, tapi dibangun dari cangkruan dengan suasana keakraban antar elemen masyarakat.

Tidak heran, kalau hal semacam ini menelorkan gagasan cerdas, memberikan pencerahan pada masyarakat sekitar dengan segala topik pembicaraan mengalir bak air bening. Adalah kiai Ihsan jempes, tokoh karismatis yang dengan kretivitasnya melahirkan karya monomental, yakni siraj ath thalibin yang berarti “pelita para pencari” sarah dari kaya imam Ghazali “minhajul Abidin” .800 halaman, intelektualitas beliau bisa disejajarkan dengan ulama muslim dunia. Didalamnya memaparkan makna-makna lughat bukan dari pengertian yang tunggal, melainkan dalam menyusun redaksi hadist dia memaparkan perbedaan para perawinya.

Sebagai bukti lain bahwa beliau seorang arif yang produktif yang mampu melahirkan karya-karya layak menjadi rujukan bacaan dan referensi umat muslim sedunia adalah Tashrihul Ibarat ( kitab falak syarah Natijatul Miqatnya kiai Dahlan Semarang ) dan kitab Manahijul Imdad ( Syarah Irsyadul Ibadnya kiai Zainuddin dari India-Selatan, yakni kota Malaibari atau Malabar ) setebal 1000 halaman, sayangnya belum terbit.

Dalam buku ini, sebetulnya ingin mengungkapkan prisma pemikiran kiai Ihsan Jempes yang tertuang kitab Siraj at Thalibin dalam bentuk biografi singkat. Dan pemikiran tasawwuf seperti yang dilakukan oleh ulama terdahulu utama al Ghazali yang menjadi rujukan ulama sunni dibelahan dunia islam. seperti tentang kata “aqabah adalah jalan terjal pada sebuah tebing “yang harus dilalui oleh “salikin” ( penempuh jalan ) yang terbungkus dalam tujuh hal yakni petama jalan terjal didalam “Ilmu”maksudnya ilmu prioritas utama yang harus didahulukan, ibarat ilmu sebuah obor yang menyinari ruangan gelap bagi para pencari. kedua jalan terjal didalam “taubat” karena untuk mencapai suatu maqam, taubat merupakan yang harus dipertahankan dan menjadi asas setiap maqam dan ahwal yang harus dilalui para penempu jalan “suluk” dengan tingkatn permulaan (bidayah) dan pencapaian tertinggi menuju tuhan (hihayah).

ketiga Aqabatul-Awa’iq merupakan bisa dikatakan yang yang paling pokok dalam pembahasan sirat at thalibin adalah jalan yang harus ditempuh untuk menyingkirkan setiap rintangan dan penghalang. Imam ghazali menjelaskan bahwa yang dimaksud rintangn dan halangan adalah Dunia, mahkluk, setan dan hawa nafsu manusia. Keempat Aqabatul- Awaridh suatu jalan terjal ( mendaki ) yang harus dituntaskan “persoalaan yang menyibukkan” yang menganggu aktivitas lahir dan batinyang membuat tertatih-tatih dalam beribadah dan tidak cepat beranjak untuk melihat kegaiban alam malakut. Kelima Aqabqtul-Bawa’its yaitu jalan terjal dalam upaya menyingkirkan penghalang ( aghyar, sesuatu selainAllah ) dan dengan membangkitkan kerinduan pada Allah.

Keenam Aqabatul-qawadhil adalah upaya total seorang pejalan untuk mencapai kebersihan jiwa dan mencapai maqam “kemurnian”. Ketujuh Aqabatul-hamdi yang menjadi pemungkas dalam berta’abbud sehingga jalan terjal dalam maqam Syukur menjadi keharusan bagi seorang hamba dan bisa mencapai maqam arif. (hal, 39-45)
Buku setebal 76 halaman ini, merupakan kegelisan dan pesarannya sang penulis terhadap sosok kiai jempes yang lebih suka berdakwah ditempat yang tak terjangkau oleh kendaran dan tempat yang sederhana bahkan di musholla kecil lembah sungai Gajah Wong.dan bagaimana lika-liku menjadi sosok sufi yang disegani hingga melahir karya monomental.meskipun buku ini, risalah kecil hasil diskusi diwarung kopi bisa menambah refensi dunia tasawwuf kita. Meskipun perlu penyempurnaan referensi kuat dari sang penulis tapi tetap patut diapresiasi karena jarang orang menyingkap tokoh yang telah memberikan kontribusi besar terhadap pemahaman keagamaan yang kita yakini.

Dengan demikian, prinsipnya manusia diciptakan untuk mengabdikan dirinya pada tuhan, namun pengabdiantidak semulus yang dibayangkan, banyak kerikil yang menghalangi manusia sampai padanya. Oleh karena itu, manusia perlu mengasah hatinyadengan selalu berdzikir dan bertaqarrub padanya.dimensi terpenting pergulatan spritual hamba mencapai insan kamil dan menjadi tujuan hakiki.



*) Alumni PP. Ibrahimy Gapura Sumenep dan Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya
Read More “Sosok Sufi dibalik Kedai kopi”

Pak Harto, Kebal Hukum Tidak Kebal Mati


Judul Buku : Rahasia Pak Harto ( Menyingkap Rahasia Umur panjang,
: Kesehatan, kesuksesan, & kekuasaan Pak Harto )
Penulis : Mohammad Shoelhi
Penerbit : GRAFINDO
Cetakan : Maret 2008
Tebal : 133 hal
Perensi : Ahmad Shiddiq Rokib*

Bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa para pahlawan dan pendahulunya. Bung karno, Bung Hatta, Bung Tomo dan seterusnya, termasuk pak Harto adalah pahlawan terbaik yang dimiliki bangsa ini. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, mereka telah mengukir sejarahnya masing-masing dalam percaturan memerdekakan, membangun, dan memajukan Indonisia.

Haji Mohammad Soeharto atau lebih dikenal sebutan pak Harto, hal ini disebabkan karena beliau menjadi penguasa bangsa ini selama 32 tahun, sehingga nama besarnya terangkat didunia internasional, berakhir pada saat krisis moneter tahun 1998 ditandai dengan krisis kepeminpinan dan turunnya sang peminpin diakibatkan oleh ulahnya sendiri pada saat jayanya selalu bertindak sewena-wena, jika ada suara kritis mengelinding pada istana kekuasaannya.

Saat persakit-sakitan mata dunia tertujuh padanya untuk sekedar mengenang jasa-jasa beliu, mulai dari yang benci dan yang suka, baik teman maupun lawan memberikan perhatian besar, bahkan K.H..Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, BJ. Habibie, Ginanjar karjasasmita dan yang lainnya menyuarakan agar pak Harto dimaafkan dosa-dosanya. Menurut Gus Dur meskipun mantan Presiden kedua ini banyak melakukan kesalahan tapi juga banyak jasa-jasa yang dipersembahkan untuk bangsa ini, paling tidak pak Harto dalam melakukan sesuatu atau bertindak memperhitungkan segala sesuatu, selalu merencanakan dengan matang, dan yang terpenting selalu memikirkan rakyat kecil.

Pada zaman berkuasa pak Harto selalu tersenyum, pada kawan, lawan,termasuk saat susah, senang, bahkan dalam keadaan kalap sekalipun sehingga musuh dan bawahannya sulit memprediksi apa yang sedang direncanakan dan senyum multitafsir hendak mendarat, dari senyum itulah dipercaya menjadi rahasia, kelanggengan kekuasaan, kekayaan, kesehatan, dan umur panjangnya. Dalam sebuah riset disebutkan bahwa senyum memberi manfaat yang luar biasa pada psikologi seseorang. Dan pada masa hidupnya pak Harto selalu menjaga penampilannya dengan senyuman dan tak elak menimbulkan multitafsir.(hal 19)

Tapi apa yang terjadi jika senyum yang multitafsir tersebut hilang dari penampilannya, akankan yang konon katanya, senyun membawa keberentungan pada karir, kesehatan,kekuasaan, dan umur panjangnya, yang.menjadikan orang –orang dsekitarnya deg-degan itu, pada situasi yang tidak menentu? tentu hal ini, bisa terjawab dengan tuntas dalam buku ini.

Buku yang berjudul Rahasia Pak Harto ini, banyak menjelaskan tentang penyebab hilangnya senyum pak Harto, dan bahkan menurut para pakar psikologi, beliau sudah kehilangan 385 senyum perhari.dan pengamatan pakar politik, menilai senyum itu hilang, pertama karena power syndrome kejatuhan kekuasaannya begitu mendadak, penhiayatan yang dilakukan oleh orang –orang kepercayaan yang telah ia besarkan, menghianati dengan turut serta meminta turun dari jabatan kepresidenan, semua itu berbalik lurus begitu cepatnya.

Turunnya sang macan dari kekuasaan, menimbul kasus Hukum yang menyita perhatian publik, yakni KKN hasil berkuasa disinggasana bernama bangsa Indonesia. Penggatinya .BJ. Habibie hingga SBY belum menunjukkan tanda-tanda diusut dengan tuntas dan cendrung tutup buka jalan terhadap kasus tersebut. meskipun sang empunyah sudah pulang ke alam baka. Menurut beberapa versi harta al-marhum. Laporan yang diturun oleh majalah TIME edisi Asia, 24 Mei 1999 menyatakan bahwa kekayaannya mencapai US$ 15 miliar (sekitar 135 triliun), itupun diperkirakan lebih dan majalah Forbes, edisi 28 juli 1997 (sebelum lengser) menobatkan penguasa negeri kaya ini orang terkaya keempat didunia. Dan belum mengusut perusahaan yang begerak disektor usaha dipegang oleh anak-cucuknya.(hal 72-73)

kedua karena adanya penyelewengan keppres, bermula pada tahun 1983 pak Harto mengeluarkannya, pada bidang perhutanan dan perkebunan yang terindikasi terjadi penyimpangan karena berbau Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Dari keppres tersebut, tercatat sejumlah penyelewengan yang menguntungkan bagi kroni-kroninya. Antara lain, keppres No 6 tahun 1983 tentang pembangunan dan pengelolaan gedung manggala Wanabhakti oleh Yayasan Wanajaya sampai pada keppres No 1/1997 tentang koordinasi pengembangan kawasan Jonggol sebagai kota mandiri, keppres No 73/1995 tentang Reklamsi pantai Kapuk Naga Tangerang, dan keppres No 52/1995 tentang Reklamasi Pantai Utara Jakarta yang dikuasai anak dan kroninya, bahkan temuan Masyarakat Transparansi Indonesia ( MTI ) dari tahun 1993 sampai 1998 terdapat 528 keppres yang dibuat mantan Presiden kedua ini, sekurang-kurangnya 79 terbukti menyimpang, baik legalitas, materi, dan dampak pada masyarakat.

Ya, meskipun sudah jelas bersalah tapi nyatanya hukum kita tidak bertaring dan tumpul menenbus cendana, meskipun pak Harto sudah tidak lagi didunia. Akankah rakyat Indonesia telah memaafkan mengiringi kepergiannya ?.dan sekebal-kebalnya pak harto terhadap hukum ternyata tak kebal mati juga !.

Buku bacaan yang semi-populer ini, merupakan sekumpulan informasi yang ditulis dengan gaya jurnalistik, dan mudah dibaca oleh siapapun termasuk siswa yang duduk dibangku sekolah, Cuma sayang, terdapat kekurangan disana-sini dalam bentuk penulisan dan tidak berpengaruh pada subtansi tulisan, yang bertujuan menyajikan informasi masa lalu untuk menjadi cermin oleh generasi yang akan datang dan para politisi sekarang. Dengan demikian buku ini sangat cocok dibaca oleh peneliti, praktisi, akademisi, pemerhati dan bagi mereka yang menaruh perhatian pada masalah hukum dan politik di Indonesia

Lalu Ibarat pepatah, Gajah mati meninggalkan gading, pak harto mati meninggalkan masalah. Allahu Maghfirlahu.!

* Penulis :Pecinta buku dan aktif dikomunitas Baca Surabaya (KOMBAS)
Read More “Pak Harto, Kebal Hukum Tidak Kebal Mati”

Percikan Mata Batin Seorang Sufi


Judul Buku : Percikan Cinta dari Surga
Penulis : Geidurrahman El-Mishry
Penerbit : himmah Kelompok Grafindo, Jakarta
Cetakan : I, September 2008
Tebal : 254 hal
Peresensi : Ahmad Shiddiq Rokib*

Pada prinsipnya, manusia diciptakan untuk mengabdikan dirinya kepada tuhan, namun pengabdian tidak semulus apa yang dibayangkannya. Banyak krikil yang menghalangi manusia sampai kepada-nya. oleh sebab itu, manusia perlu mengasah hatinya dengan selalu bertaqarrub kepada tuhannya. Dimensi terpenting dalam pergulatan hamba spiritual hamba mencapai tingkatan dan menjadi tujuan hakiki.
Dengan demikian, setiap dari kita menginginkan kehidupan yang lebih mulia dan bermakna. Hal demikian yang menjadi tujuan hidup manusia, tak lain karena semata ingin mendapat ridha Allah. Keikhlasan dalam beribadah menjadi kata kunci dalam upaya meraih ridha Allah. Kalau ridha Allah sudah kita dapat, apapun akan kita raih, termasuk hidup mulia dan nikmat surga kelak di akhirat.

Nah, dalam buku yang berjudul “percikan Cinta dari surga” ini. Akan mengantar kita pada hal yang demikian, banyak hikmah yang diungkapkan didalamnya. Misalnya tentang terkabulkanya do’anya tukang sapu oleh Allah yang diceritakan oleh Muhammad bin Muhandist, pada suatu malam sang muhandist berada dimasjid, tiba-tiba datang seorang berkulit kecoklat-coklatan, mengenakan kain sarung, dan pada lehernya tergantung kain yang lebih kecil. Lalu laki-laki itu berdo’a agar Allah menurunkan hujan “Wahai rabbku. Para penduduk Madinah kota-Mu telah keluar dan meminta hujan, namun engkau tidak mencurahkan hujan. Kini aku bersumpah atas Mu, turunkanlah hujan”
Lalu suara guntur diiringi hujan yang mulai menjatuhi bumi. Tatkalah itu Muhanndist tadi terkaget-kaget, dari saking penasarannya ia membuntutinya tiap kali habis sembahyang shubuh, yang selalu keluar setelah salam tanpa berdzikir terlebih dahulu.

Sampai dirumahnya. Langsung sang muhandist disambut oleh yang berdo’a dimasjid tadi dan menanyakan tentang apa yang bisa dibantu tapi sang muhandist men jawab sekaligus bertanya,”apa benar anda yang bersama saya pada suatu malam itu”.Tiba-tiba yang ditanya raut wajahnya berubah kerah-merahan dan mengumpat sang Muhannadist, kemudian muhanndist meninggalkannya.

Dari secuil cerita diatas, dalam diri kita akan terbersit sesobek hikmah yang mulai luntur dari kaum muslim ditengah derasnya kilauan dunia. Pertama tidak riya’dalam beribadah kepada tuhan, dan bila riya terdapat pada diri seseorang maka Allah akan melaknat hambahnya. Sebab riya adalah perbuatan yang sama halnya menyandingkan kemuliaan-nya dengan yang lainnya.

Kedua tidak ta’jub, ujub, sombong, dan kemegahan lantaran popularitas. Karenanyamenghindari sebab dan musababnya popularitas menjadi wajib. Kecuali lantaran menyebarkan agama (dakwah) Allah, dengan ketaatan, ikhlas, perbuatan yang bisa dirasakan manfaatnya oleh orang banyak, sehingga ia menjadi masyhur dengan sendirinya. Dan hal ini, perlu diatasi dengan cara mencintai Khumul (anti ketenaran), ia tidak mabuk dipuji dan tidak memperdulikan yang mengaguminya. Orang semacam ini, budi pekertinya baik, bisa menjaga lisannya serta renda hati dalam berbagai persoalan.

Ketiga tidak mencari kedudukan, sedangkan harta dan kedudukan tidak bisa dipisahkan dengan popularitas. Keduanya adalah sendi dari dunia. Secara alami orang yang tertarik dengan harta karena ingin memiliki dan memanfaatkan buat kebutuhan hingga kebutuhan sampai tingkat menguasainya. Sementara itu, orang tertarik dengan kedudukan. karena ingin dihormati, diagungkan, ditaati juga ingin mendapatkan kekayaan. Dua sendi dalam kehidupan ini saling terkait satu sama lain ( hal, 77 ).

Melihat realitas saat ini, mungkin hampir tidak ditemukan orang yang tidak mencintai dan bahkan mencari popularitas, kedudukan dengan cara riya, mengagungkan kelebihan diri sendiri, menjelek-jelekkan orang lain. Kadang supaya dirinya popular dan mendapat jabatan yang diinginkan ia berani menhambur-hanburkan uang dengan beriklan di TV, surat kabar dan lain-lain. Dan andaikan orang-orang mencontoh dan mengambil pelajaran kisah diatas, tidak tidak mempopularkan diri dalam mencari jabatan, yang ujung-ungnya hanya mencari kekayaan pribadi bukan kemaslahatan umat, niscaya selalu teduh dan tidak kering dari spiritual.

Sungguh, Geidurrahman El-Misry sapaan nama pena dari Aguk Irawan telah mampu menyajikan kisah-kisah Sufi dari kalangan sahabat Nabi dan tabi’in yang diangkat dari kitab-kitab klasik dengan dipadukan dengan tafsir hikmah, hingga menambah inspirasi orang-orang yang ingin mendapatkan ridha Allah dengan merasa sejuk bersamanya dan dapat mengambil ibrah dengan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian tidak heran kalau KH. Musatafa Bisri atau Gus-Mus di cover depan mengatakan Bahwa “Buku yang cerdas, yang menghantarkan hidup kita menjadi lebih bermakna dan mulia dengan mengapai ridha dan surga Allah, serta menjadi bagi pencerahan mata batin dan spiritual kita”.

Dengan demikian, buku ini perlu dibaca siapapun yang rindu akan nilai-nilai kearifan berakar dari shahabat, tabi’in dan ulama sholeh. dan tentu dalam buku ini terdapat beberapa kelemahan yang tidak begitu fatal.

Akhirnya, setiap manusia harus senatiasa menjadi hamba pilihan Allah SAW. Karena hanya dengan menjadi pilihannya, manusia bisa mendapatkan tempat dan derajat tinggi disisinya. Untuk mengujudkan keinginan luhur itu tentu tidak gampang, apalagi pada era sekarang, penuh tantangan dan godaan. Wallahu A’lam bis showab.



*)Penulis Alumni PP. Nasy-Atul Muta allimin, Mantan Aktivis PAC. Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama Gapura Sumenep.
Read More “Percikan Mata Batin Seorang Sufi”

Tokoh Legendaris Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah


Judul Buku :MENGENAL K.H.NAWAWI Berjan Purworejo, Tokoh diBalik Berdirinya Jam’iyyah Ahli Thariqah al-Mu’tabarah
Penulis :Drs.HR.Mahsun Zain, Dkk ( Tim PP . An-Nawawi )
Pengantar :K.H.Ahmad Idris Marzuki
K.H.Maimoen Zubair
Penerbit :Khalista Surabaya
Cetakan :I, Agustus 2008
Tebal :xx+184 hlm
Peresensi :Ahmad Shiddiq Rokib*

Dunia tasawwuf muncul akibat kepongahan kelompok umat islam yang merasa tidak puas dengan kedekatan diri mereka kepada tuhan melalui ritual-ritual formal seperti sholat, puasa, dan sebagainya. Mereka ingin mencapai intisari ibadah yaitu adanya kesadaran akan adanya komunikasi antara roh manusia dan tuhan. Kesadaran inilah yang pada akhirnya memunculkan ajaran-ajaran tasawwuf baik yang hanya disampaikan secara lisan dari seorang guru kepada muridnya maupum yang ditulis dalam bukunyasemisal Ihya Ulum al-din Oleh al-Ghazali. Bahkan pada abad XII Masehi ikatan guru dan murid dalam kontek usaha transfer ajaran ( tranfer of doctrine) mulia terorganisir yang dikenal dengan nama tharikat.

Adalah K.H. Nawawi bin Shiddiq yang merupakan mursyid thoriqah sekaligus pendiri Organisasi Jam’iyyah Thariq al-Mu’tabarah yang cukup dikenal dan patut menjadi tokoh teladan oleh segenap guru dan santri thoriqat dari berbagai aliran utamanya Thariqah Qodiriyyah Wa Naqsabandiyyah dan umumnya seluruh muslim-muslimat dipenjuru tanah air ini. Pasalnya, derajat yang tinggi dalam beberapa kepengurusan organisasi sosial kemasyarakatan baik dalam lingkup organisasi Nahdhtul Ulama (NU), Thariqh, dan sebagainya, tidak menjadikan “ menyembulkan” keluar dari jati dirinya. Tetap mampu menahan godaan pengaruh kewibawaan, yang kini banyak dicari orang.
Posisinya yangat strategis sebagai salah seorang pendiri dan pelopor berdirinya Jam’iyyah Ahli Thariqh Al-Mu’tabarah yang dideklarisikan di Pondok Pesantren Tegalrego Magelang pada tahun 19-20 Rabi’ul Awal 1377 H. /12-13 Oktober 1957 M. Tidak dijadikannya ajang untuk mencari keuntungan Pribadi. Beliau, seorang kyai yang matang dalam berorganisasi khususnya di NU dan Thariqah Qodiriyyah Wa Naqsabandiyyah, tidak pernah mbalelo dalam masa pengabdian yang panjang, banyak kawan sederhana, tidak neko-neko, namun tetap dihormati oleh kalangan tua dan digandrungi anak muda.

Jadi tidak heran, jika semua dilakukan hanya untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Sebab ulama pengasuh Pondok Pesantren ini, seperti ynang dituturkan oleh K.h. Ahmad Idris Marzuki pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri bahwa ia mengawali karir pengabdiannya dengan menimbah ilmu pada beberapa pesantren di Jawa Tengah dan Jawa timur. kesederhanaannya dalam hidup, diwarisi dari ayahandanya K.H.Shiddiq bin Zarkazi, dan nampak jelas dalam ingatan teman-teman selama enam tahun mondok di pondok lirboyo Kediri yang diasuh oleh Syech Abdul Karim bahwa penghidupannya terlalu sederhana karena diperoleh dengan jalan “ buruh ngeseh kitab ” pada teman-temannya.

Semangat pengabdian kepada umat pula yang memompa keprihatinannya menyaksikan pada masanya, banyak terjadi penyimpangan dalam ajaran thariqat. Keprihatinannya inilah yang menuntutnya menemukan ide brilian dengan memprakarsai terselenggaranganya kongres I Alim Ulama Thariqah Qodiriyyah Wa Naqsabandiyyah pada tanggal 12-13 Oktober 1957 dan pada saat ini pula dideklarasikannya Jam’iyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah. Sebelumnya beliau membuat kesepakatan antara K.H.Nawawi Berjen dengan K.H. Masruhan Brumbung pada tanggal 31 Desember 1955 untuk meluruskan dan menyepakati perlunya membentuk jam’iyah tharikat shohihah karena ditengarai terjadi penyimpangan ajaran dan tidak terorganisirnya pengikut thoriqat. Demi memuluskan ide tersebut beliau berkeliling untuk silaturrahim pada pengasuh pondok-pondok yang ada di Jawa tengah dan Jawa Timur ( hal 96).
Disamping itu, beliau adalah sosok pemikir yang tidak kalah produktif dengan pemikir kontemprer ini, utamanya berkaitan dengan din maupun masalah duniawiyah. Ini terlihat dari sejumlah karya tentang keutamaan al Qur’an, Aqidah, tasawwuf / thariqat, fiqih hingga kemandirian ekonomi dan tata Negara, yang hampir semuanya berbahasa arab dan jawa dengan berbentuk syair. Pada bagian pembahasan tentang tata negara beliau sangat cerdas memeparkan bahwa umat islam indonesia harus bisa menata agama dan negara dengan sebaik-baiknya dan bagaimana rakyat indonesia bisa maju dan mandiri secara ekonomi yang tidak berergantung pada negara asing dan peminpin yang mengelolanya untuk kesejahteraan bersama.

Sungguh, buku ini cukup runtut dalam memaparkan fakta sejarah karena didukung sumber yang terpercaya. Lebih dari itu, buku ini saja memaparkan sejumlah peristiwa tetapi penulisannya telah diberikan penjelasan makna sejarah dan fakta yang ditampilkan, sehingga melalui buku ini, pembaca akan dibuat terkaget-kaget dan kagum akan kebesaran visibelitas sang tokoh dengan segalah karya dan pemikiranya yang boleh dibilang komplit. Sehingga patut direkomendasikan bagi akademisi, peneliti, dan tokoh ulama-intelektual yang ingin mendapatkan fakta baru tentang sejarah thariqat di Indonesia, sekaligus menaruh perhatian pada dunia tasawwuf kontemporer.
Akhirnya, dari sejarah tokoh legendaris ini, kita sebagai generasi dan penerus perjuangan ulama terdahulu bisa mengambil suri tauladannya yang suka pengetahuan, kesederhanaan, mengutamakan orang lain, ikhlas, mandiri, disiplin, sabar dan tak kalah penting cintanya pada tanah air dan bangsa indonesia ini. Luar biasa bukan ?.


*) Santri Pondok Pesantren Luhur Husna dan koorditor Student Association of Moslem Indonesia ( SAMI ) di surabaya
Read More “Tokoh Legendaris Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah”
ad

Jejak Pengunjung

Mengenai Saya

Foto saya
saya adalah alumni pesantren desa yang jauh dari heruk pikuk informasi dan teknologi, jadi saya berkomitmen untuk memakmurkan pesantren dalam rangka memberdayakan masyarakat kecil

Labels